Fauzih Amro, sang Penyulap Bandara Lubuk Linggau


ORANG kampung, begitulah Fauzih Amro mengidentifikasi dirinya. Bukan sebagai perwujudan sifat inferior melainkan sebagai penyemangat dan pengingat atas asal dan leluhur. Karena itu ketika menjadi 'orang', politisi muda ini tidak lupa akan nasib tanah dan tempat kelahirannya.

Semenjak dilantik menjadi angggota DPR, 1 Oktober 2014, ingatan Fauzih Amro langsung menerawang ke Lubuk Linggau di Kabupaten Musirawas. Lubuk Linggau termasuk dua kota terbesar setelah Palembang di Provinsi Sumatra Selatan. Sayang, pembangunan dan infrastrukturnya masih jauh tertinggal dari Palembang.

Karena itu, ketika partai menempatkannya di Komisi V yang di antaranya mengurusi infrastruktur, deklarator Persatuan Indonesia (Perindo) ini seperti mendapat jalan lapang. Sejumlah harapan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan menjadi kenyataan.

"Pikiran saya langsung tertuju pada nasib Bandara Lubuk Linggau. Bandara ini proyek strategis yang bakal memiliki efek domino di antaranya bagi investasi dan pariwisata," kata Fauzih Amro saat berbincang dengan rilis.id dalam dialog #RilisCorner di Pejaten Raya, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Fauzih Amro, Lubuk Linggau itu daerah yang sangat strategis. Siapapun yang lewat jalur darat baik ke Medan atau ke Aceh pasti melewati Lubuk Linggau. "Apalagi kalau dibangun bandara yang lebih besar, delapan kabupaten dan kota di sekitarnya akan semakin mudah dijangkau," tutur lulusan peternakan Institut Pertanian Bogor ini.

Bandara Lubuk Linggau, sebut peraih dua gelar master dari Unpad dan UI ini, sebelumnya lebih menyerupai terminal bus. Areal bandara juga kerap digunakan sebagai tempat balap sepeda motor. Jangan ditanya soal rute dan juga kapasitas penerbangan. Pasti sangat minim dan sangat jauh dari standar.

 "Tapi sekarang banyak orang yang tidak percaya hanya dalam sekira dua tahun Bandara Lubuk Linggau sudah cukup representatif dan disinggahi pesawat berbadan lebar. Penerbangan pun langsung Jakarta-Lubuk Linggau pulang pergi," ujar Fauzih Amro. "Mungkin saking terkesimanya ada yang menyebut Bandara Lubuk Linggau sebagai Bandara Fauzih Amro," ujarnya sambil tertawa.

Sebutan itu mungkin tidak berlebihan karena sebelumnya Lubuk Linggau hanya disinggahi satu pesawat kecil dan itu pun seminggu cuma tiga kali penerbangan. Namun upaya Fauzih Amro yang melobi Kementerian Perhubungan dan juga sejumlah perusahaan maskapai penerbangan kini dua maskapai nasional, Batik Air dan Sriwijaya Air, selalu padat dengan penumpang.

 "Sekarang penerbangan pagi dan siang Jakarta-Lubuk Lingggau. Dan kemungkinan dua bulan lagi tiga kali penerbangan sehari," ujar mantan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PBR Provinsi Sumatera Selatan ini. Ya, penerbangan ini juga semakin memudahkan peraih 26,438 suara ini pulang kampung sehingga semakin dekat dengan konstituennya. (Rilis)
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar